Perlukah Kita Waspada pada Virus Zika?

hajar jahanam – Belakangan ini, penyakit Zika yang kerap diakui sebagai kerabat dari penyakit Demam Berdarah sebetulnya sedang naik daun. Bahkan tidak sedikit ahli kebugaran dunia memperlihatkan bahwa virus Zika dan serangan penyakit yang ditimbulkannya masuk dalam daftar siaga satu di berbagai negara. Indonesia sendiri terhitung dalam daftar negara yang mengumukan sehingga warganya waspada kalau bepergian ke negara-negara bersama dengan wabah Zika.

 

Namun ada sebagian pengakuan menarik yang menyebabkan kebanyakan dari kami tidak mulai safe lagi. Terlepas dari fakta bahwa sebetulnya telah ditemukan persoalan Zika di Indonesia pada pertengahan 2015 lalu di Jambi.

 

Pernyataan tersebut diungkap dalam laman National Geographic Indonenesia berdasarkan Info dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengenai kemungkinan penyakit Zika ini sebetulnya telah ada di Indonesia jauh sebelum akan isu penyebarannya keluar baru-baru ini.

 

Namun sebab ada sebagian faktor, penyakit Zika tidak mewabah sebagaimana pada persoalan yang berjalan di kawasan Amerika Latin. Sementara itu sementara ini secara resmi WHO melalui Center for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa virus Zika telah menyebar ke 27 negara dan mayoritas berada di Amerika Latin.

 

Di Indonesia sendiri, keluar pula kecurigaan kalau selama ini sebagian persoalan DBD yang keluar sebetulnya kesalahan diagnosa pada Zika, mengingat pada masa lalu belum banyak sosialisasi penyakit Zika dan persoalan serangan virus Zika di Indonesia.

 

Memang persoalan Zika kerap memperlihatkan tanda-tanda hampir mirip bersama dengan Demam Berdarah dan Chikungunya. Keluhan layaknya demam, rasa linu di persendian dan otot, sakit kepala, serta mual sebetulnya keluar pada pasien bersama dengan serangan virus Zika. Dan keluhan yang mirip terhitung keluar pada penderita DBD stadium awal.

 

Tetapi keluhan tertentu dapat keluar saat pasien mulai menampakkan mata merah disertai rasa perih dan pedas. Di segi lain terhitung keluar ruam merah pada kulit dan kadang terhitung keluar menyerupai pengaruh ruam gatal. Ini memahami tidak serupa bersama dengan keluhan kulit pada penderita Demam Berdarah yang lebih berbentuk bintik merah kecil tidak timbul.

 

Penderita Demam Berdarah terhitung dapat menampakkan tanda-tanda perdarahan pada stadium yang lebih serius, dan perihal ini memahami tidak dulu dijumpai pada penderita Zika pada stadium apapun. Dan paling akhir ditemukan perbedaan paling memahami adalah kondisi trombosit pada pasien virus Zika stabil dan tidak menurun sebagaimana pada penderita DBD.

 

Lalu, seberapa besar risiko kami diserang Zika?

Secara umum, terkandung dua kemiripan pada Indonesia bersama dengan sebagian negara dimana virus Zika sementara ini mewabah. Yang pertama adalah iklim dimana Indonesia dan sebagian besar kawasan Amerika latin sama-sama berada di kawasan Tropis. Dan yang kedua, di Indonesia dan di negara-negara Amerika Latin masih banyak ditemukan kawasan kumuh bersama dengan kesadaran kebugaran dan kebersihan lingkungan yang rendah.

 

Saat ini kawasan tropis, tak kalau Indonesia dan area Amerika Latin, sedang mengalami kondisi cuaca yang berubah-ubah sehingga hawa bersama dengan mudah berubah dari hawa panas dan terik menjadi dingin bersama dengan intensitas hujan yang tinggi. Perubahan cuaca yang tidak teduga ini sedikit banyak berperan pada kondisi tubuh seseorang sehingga terlalu mungkin seseorang mengalami penurunan kekuatan tahan tubuh.

 

Ditambah bersama dengan fakta di Indonesia masih bersama dengan mudah kami jumpai kawasan kumuh bersama dengan kondisi kebersihan yang buruk, sanitasi yang tidak terjaga, dan persoalan kesadaran kebugaran yang rendah. Maka sebetulnya seandainya diamati dari sudut pandang kesamaan aspek tadi, Indonesia memiliki peluang besar mengalami wabah serupa.

 

Itu telah tercermin bersama dengan munculnya wabah DBD yang meledak dalam 2 bulan paling akhir ini. Meski sementara ini ribuan sampel dari negara-negara Asia telah diteliti oleh National Institute of Virology di Pune dan dinyatakan negatif Zika. Ada kemungkinan persebaran Zika dapat raih Asia, mengingat tidak benar satu negara Asia, yakni India telah mengalami serangan Zika yang tidak baik sebagian tahun lalu.

 

Tapi, kabar baiknya: ada sejumlah aspek yang membantu kami menghimpit risiko wabah virus Zika di Indonesia atau mencegahnya menyebar cepat sebagaimana pada persoalan Zika di Amerika Latin. Faktor-faktor tersebut pada lain:

 

  1. Tindakan pencegahan yang telah dikenal luas

Masyarakat Indonesia kebanyakan telah memahami teknik-teknik pencegahan wabah Demam Berdarah apalagi sejak puluhan tahun lalu. Meski diakui dalam tahap pelaksanaan sebetulnya belum optimal dan masih ditemukan banyak kawasan yang belum cocok bersama dengan standar pencegahan.

 

Dengan pengetahuan mengenai langkah pencegahan penyebaran nyamuk DBD, sebetulnya penduduk telah cukup dibekali langkah terbaik pencegahan serangan virus Zika. Dan ini adalah langkah terbaik yang dapat penduduk melakukan untuk menahan serangan virus Zika, sekaligus langkah pencegahan serangan Demam Berdarah dan Cikungunya.

 

  1. Dugaan virus Zika Indonesia tidak serupa bersama dengan virus Zika Amerika Latin

Beberapa ahli mikrobiologi dari UGM meyakini virus Zika di Indonesia memiliki kemampuan penyebaran yang mirip bersama dengan Demam Berdarah dan Cikungunya. Namun ada fakta tidak serupa yang ditemukan pada persebaran virus Zika di Amerika Latin. Karena virus Zika terhitung dapat hidup dalam air liur, darah yang tidak mengalir, dan mani.

 

Ini menyebabkan virus Zika di Amerika Latin tidak hanya menular melalui perantara nyamuk, namun terhitung melalui tranfusi darah, berciuman, minum dari gelas yang sama, serta pertalian seksual. Perbedaan ini mengundang dugaan bahwa Zika di Amerika Latin tidak serupa bersama dengan Zika di Indonesia.

 

  1. Kebiasaan seksual

Beberapa ahli mendapatkan bahwa ada kemungkinan virus Zika dapat bertahan dalam mani sehingga memungkinkannya menular melalui pertalian seksual. Dugaan ini sebetulnya belum sepenuhnya diyakini sebab masih perlu penelitian lebih mendalam. Menariknya, budaya seks bebas di kawasan Amerika Latin diakui sebagai tidak benar satu aspek yang mempercepat penularan. Dan beruntung, budaya Indonesia yang masih terlalu menentang seks bebas dapat sedikit banyak menghimpit risiko penularan.

 

Sampai sementara ini sederet riset masih dikembangkan di Indonesia dan di berbagai negara untuk menegaskan tindakan pencegahan paling tepat untuk menghimpit serangan virus Zika. Indonesia sendiri telah melakukan sebagian langkah pencegahan cepat masuknya virus Zika dari berbagai negara Amerika Latin ke Indonesia.

 

Langkah-langkah layaknya peringatan bahaya bepergian ke negara-negara yang diserang wabah Zika dan sebagian kontrol bagi pengunjung dari luar negeri. Termasuk pula sejumlah edukasi kepada pihak medis mengenai tanda-tanda dan pembawaan Zika—langkah tersebu terlalu membantu untuk mendeteksi cepat seandainya keluar serangan Zika di daerah-daerah.

Seorang yang hadir di tengah hiruk pikuknya akhir zaman

adminimarket

Seorang yang hadir di tengah hiruk pikuknya akhir zaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *